Jul 11, 2015

MBAK SPG OH MBAK SPG

Saya tidak tau siapa yang pertama mengucapkan istilah "pembeli adalah raja", tapi yang pasti saya tidak setuju akan itu. Menurut saya baik pembeli maupun penjual berada di level yang sama karena pada dasarnya mereka saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Tapi bukan berarti penjual diijinkan untuk memperlakukan pembeli dengan tidak khusus, bahkan berkesan mendiskriminasikan pembeli.

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke salah satu pusat kosmetik dan alat kecantikan terbesar di Semarang, sebut saja toko E. Sejauh pengetahuan saya, toko E memiliki koleksi terlengkap dibanding toko kosmetik lainnya di Semarang. Itu mengapa saya memutuskan berbelanja kosmetik untuk melengkapi daftar barang seserahan saya disana. Saya sendiri sudah menyiapkan budget lebih untuk kosmetik karena saya memang cukup senang berdandan. Bagi saya kemampuan merias wajah itu adalah seni sekaligus hobi. Saya tidak ragu merogoh kantong saya lebih dalam untuk kosmetik.

Saya pun memasuki toko E dengan penuh harap. Promo promo bulan ramadhan terlihat di berbagai konter. Konter R misalnya, make up palette bernuansa pink berisikan mascara, eyeshadow, blush on dan lipstick hanya dibanderol 350K. Tinggal menambahkan beberapa barang lagi untuk melengkapi koleksinya. Sedangkan di konter M, dengan harga yang sedikit lebih murah, ditawarkan pilihan warna yang lebih beragam dan lebih teen oriented. Saya pun menyambangi konter N yang paling dekat dengan pintu masuk berharap menemukan lipstick cair unggulan brand N tersebut. Alih alih mendapat respon baik, Sales Girl dari brand tersebut dengan ketusnya "menolak saya". Jangankan ditawari produk lain yang serupa, tersenyum pun tidak. Tanpa banyak pertimbangan saya pun pergi menjauh dari konter itu.

Sejak kejadian kurang menyenangkan tersebut, jujur saya menjadi malas membeli produk dari brand tersebut. Saya yakin tidak semua Sales Girl brand tersebut bersikap demikian tapi seperti kata peribahasa, "nila setitik rusak susu sebelanga". Saya tidak mengerti mengapa, tapi harga atau kualitas produk tidak menjadi pembenaran untuk seorang Sales Girl berlaku demikian. Toh bukan saya yang dirugikan. Tinggi rendahnya hasil penjualannya tidak akan mempengaruhi saya. Lagipula masih banyak produk dengan kualitas yang sama bahkan lebih baik dari brand tersebut.

Saya menulis pengalaman pahit saya ini sekedar untuk berbagi dengan pembaca. Saya berharap tidak satupun dari pembaca pernah mengalami hal yang sama. Saya juga tidak bermaksud menghasut pembaca untuk tidak membeli produk dari brand tersebut. Saya hanya ingin mengingatkan lagi hak seorang pembeli untuk mendapat informasi secukupnya dan adalah hak penjual untuk menanggapi pembeli seramah dan sebaik mungkin. Happy shopping ladies :)

Jun 5, 2015

Cantik Pasti Operasi Plastik

Saya tidak akan banyak basa basi pada postingan kali ini. Saya hanya sekedar ingin membagi pendapat saya akan opini masyarakat Indonesia tentang Operasi Plastik. Saya juga tidak akan menyebutkan jenis-jenis operasi plastik yang ada apalagi sampai tarif nya. Ini murni pendapat saya akan opini masyarakat yang mulai tidak enak di dengar.

Singkat kata beberapa hari ini saya merasa terganggu dengan ucapan-ucapan nyinyir di akun Instagram beberapa artis ibu kota. Lebih spesifik lagi di akun anak seseDIVA Indonesia sebut saja A. Saya yakin tanpa perlu menyebut namanya banyak dari pembaca akan mengerti siapa maksud saya. Dari semua sindiran sindiran yang ada bisa saya simpulkan bahwa A dituduh telah melakukan plastic surgery karena penampilannya yang jadi berbeda dalam konotasi baik. Entah masalah kulit hingga rahangnya di cibir habis habisan. Meskipun A telah mengkonfirmasi bahwa semua perubahan itu tidak ada sangkut pautnya dengan operasi plastik tetap saja dia di cibir.

Sebelum saya lanjut menuliskan pendapat saya ada baiknya pembaca tau saya bukan fans A. Saya lebih tua dari dia dan saya tidak pernah mengidolakan orang yang lebih muda dari saya. Jadi pendapat saya tidak akan terpengaruh akan suka atau tidak sukanya pada A. Saya hanya menyayangkan bagaimana orang-orang dengan mudahnya memberi label pada orang lain yang bahkan tidak dikenal. Bertemu saja belum tentu pernah. Sungguh miris melihat keadaan seperti ini.

Perlu digaris bawahi bahwa saya tidak pernah merasa secantik Megan Fox atau sexy seperti Candice Swanepol. Akan tetapi saya sendiri pernah mengalami transformasi fisik yang cukup untuk membat orang lain nyinyir dibelakang saya. Saya berani bersumpah tidak pernah menjalani operasi plastik. Saya kenal dengan dunia spa saja baru setahun belakangan.

Delapan tahun yang lalu adalah masa itik buruk rupa saya yang paling parah. Berat saya menembus angka 100 kilogram, kulit saya gelap terlalu sering jalan kaki pulang pergi sekolah dan rambut saya keriting dan hampir botak hasil obat pelurusan rambut yang terlalu keras. Saya itik buruk rupa yang sama sekali tidak mementingkan penampilan pada saat itu.

Saya perlahan berubah ketika mulai menduduki bangku perkuliahan. Jadwal kuliah yang padat, kegiatan organisasi yang menumpuk dan ketertarikan pada dunia fashion bagai hentakan pada diri saya. Berat badan saya menurun, kulit saya yang kusam kembali cerah dan rambut saya pun tumbuh dengan sendirinya. Saya terobsesi bisa mengenakan pakaian yang lagi tren dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari ukuran saya waktu itu. Mereka yang melihat sendiri perubahan itu tahu itu semua butuh proses. Sedangkan mereka yang tidak, tidak akan percaya semua itu.

Suatu waktu saya bertemu dengan saudara yang sudah lama tidak saya jumpai. Dia mungkin terkejut melihat saya yang saat itu ia temui berbeda jauh dari ingatannya. Saya hanya tersenyum meski sempat risih melihat caranya menatapku. Tanpa perasaan malu dia bertanya pada Ibu saya apa hidung saya di operasi. Jelas Ibu saya menjawab tidak karena memang itu kenyataannya. Tapi dia berkali kali lagi menanyakan hal yang sama. Merasa pemikirannya tidak dibenarkan, ia menatapku dengan hina sambil bergumam "Ah gak mungkin!". Saya hanya bisa tersenyum dan coba melupakan kejadian itu.

A yang saya ceritakan sebelumnya benar benar mengingatkan saya akan pengalaman tidak mengenakkan ini. Saya berani bersumpah saya tidak pernah menjalani operasi plastik. Lagipula hidung saya tidak semancung yang dia tuduhkan. Hanya lebih terlihat sejak timbunan lemak di wajah saya menipis. Begitu juga dengan dagu saya yang semakin meruncing. Berkurangnya berat badan memperjelas bentuk wajah saya yang asli yaitu hati bukan bulat. Jelas saya akan keliatan berbeda.

Sangat disayangkan pada jaman semaju ini masih banyak orang yang berpikiran dangkal. Begitu beragamnya media informasi yang ada juga tidak dipergunakan sebaik-baiknya. Saya pernah berada disituasi itu jadi saya berani menuliskan ini semua. Lagi pula saya tidak akan mempertaruhkan harga diri dengan tindakan serendah itu. Mungkin yang kita butuhkan bukan media sosial baru tapi kesadaran akan guna semua kemajuan yang ada.

May 7, 2015

WELCOME NO POO

Semua bermula dengan obsesi saya untuk memiliki rambut sehat. Tidak sekedar terlihat indah tetapi juga sehat. SLS, Silicone, Paraben dan banyak bahan kimia lainnya yang terkandung di shampo komersil mungkin akan memberikan efek bersih dan indah sementara dirambut. Iya efeknya hanya sementara, sisanya masalah rambut dan kulit kepala mulai bermunculan. Saya yakin banyak dari kita yang pernah mendengar dampak negatif bahan bahan tersebut tapi bukan itu yang akan saya bahas melainkan NO POO yang sedang booming diluaran sana.

Sekilas pengertian saja, NO POO adalah tindakan meminimalisir penggunaan bahan kimia berbahaya pada rambut dan kemudian menggunakan shampo dengan bahan yang lebih organik. Salah satu metode NO POO yang paling terkenal adalah penggunaan Baking Soda sebagai Shampoo dan Apple Cider Vinegar sebagai Conditioner. Untuk penjelasan lebih lanjut dan resep dasarnya silahkan liat disini. Saya sendiri sudah sempat seminggu menjalani metode Baking Soda dan Apple Cider Vinegar ini. Hasilnya rambut saya terasa lembut dan bersih walau tanpa busa yang dihasilkan shampo komersil pada umumnya.

BEFORE - Regular Shampoo

FIRST WEEK NO POO - BS & ACV Rinse
Hal pertama yang saya rasakan setelah mengikuti NO POO ini adalah rambut keriting saya tidak lagi terlihat kering kerontang seperti biasanya. Ditambah lagi tingkat kemegarannya sudah banyak berkurang. Hasil yang cukup memuaskan ini tidak serta merta menghentikan pencarian saya pada pilihan yang jauh lebih baik dan natural. Setelah membaca ulasan NO POOers dari berbagai website maupun social media saya pun tau Baking Soda bukan satu satunya pilihan. Bahkan ph level Baking Soda cenderung lebih tinggi dari ph level alami kulit kepala kita. Dari semua pilihan yang ada akhirnya saya memutuskan untuk membuat NO POO shampo versi saya sendiri yang berbahan dasar teh hijau.


GREEN TEA SHAMPOO:
1 cup Teh Hijau (setelah diseduh)
3/4 cup Liquid Castile Soap / Sabun Hijau
1 sdm Madu
1 sdt Extra Virgin Olive Oil

Sedikit penjelasan tentang bahan yang saya gunakan. Teh hijau bermanfaat untuk mencegah kerontokan rambut sedangkan Coconut Oil yang terkandung di dalam Liquid Castile Soap membantu pertumbuhan rambut yang lebih sehat. Penambahan madu dan minyak zaitun berfungsi sebagai pelembab ekstra. Bahan-bahan diatas pastinya sudah saya sesuaikan dengan keadaan rambut saya. Jadi jelas masih bisa dikombinasikan dengan bahan lain tergantung keadaan rambut dan kulit kepala. Saya sendiri sudah tidak menggunakan Apple Cider Vinegar sebagai bilasan karena shampo ini sudah cukup memberikan kelembapan yang cukup.

Satu hal yang saya sayangkan adalah Liquid Castile Soap tidak mudah ditemukan di daerah saya tinggal. Saya harus memesan secara online dan pastinya dengan harganya cukup menguras kantong. Lagipula ph levelnya tidak jauh dari Baking Soda. Tidak habis akal saya pun memulai perburuan sabun dengan kadungan yang serupa tapi dengan ph level lebih rendah. Saya pun menemukan sabun hijau H*lly yang secara mengejutkan memiliki kandungan yang hampir serupa namun lebih sederhana. Jelas ph levelnya jauh lebih rendah. Dengan harga tidak lebih dari Rp.3000,- saya sudah bisa mendapatkan pengganti untuk LCS yang harganya 100x lipat dari sabun hijau bening ini.

Singkat kata, selain meminimalisir penggunaan bahan kimia berbahaya, dengan menjadi NO POOers saya bisa sedikit memotong pengeluaran saya. Tidak perlu lagi menghabiskan ratusan ribu untuk membeli shampo dan conditioner. Sekali mendayung dua tiga pulau terlalui.

Hail NO POO!