Saya tidak tau siapa yang pertama mengucapkan istilah "pembeli adalah raja", tapi yang pasti saya tidak setuju akan itu. Menurut saya baik pembeli maupun penjual berada di level yang sama karena pada dasarnya mereka saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Tapi bukan berarti penjual diijinkan untuk memperlakukan pembeli dengan tidak khusus, bahkan berkesan mendiskriminasikan pembeli.
Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke salah satu pusat kosmetik dan alat kecantikan terbesar di Semarang, sebut saja toko E. Sejauh pengetahuan saya, toko E memiliki koleksi terlengkap dibanding toko kosmetik lainnya di Semarang. Itu mengapa saya memutuskan berbelanja kosmetik untuk melengkapi daftar barang seserahan saya disana. Saya sendiri sudah menyiapkan budget lebih untuk kosmetik karena saya memang cukup senang berdandan. Bagi saya kemampuan merias wajah itu adalah seni sekaligus hobi. Saya tidak ragu merogoh kantong saya lebih dalam untuk kosmetik.
Saya pun memasuki toko E dengan penuh harap. Promo promo bulan ramadhan terlihat di berbagai konter. Konter R misalnya, make up palette bernuansa pink berisikan mascara, eyeshadow, blush on dan lipstick hanya dibanderol 350K. Tinggal menambahkan beberapa barang lagi untuk melengkapi koleksinya. Sedangkan di konter M, dengan harga yang sedikit lebih murah, ditawarkan pilihan warna yang lebih beragam dan lebih teen oriented. Saya pun menyambangi konter N yang paling dekat dengan pintu masuk berharap menemukan lipstick cair unggulan brand N tersebut. Alih alih mendapat respon baik, Sales Girl dari brand tersebut dengan ketusnya "menolak saya". Jangankan ditawari produk lain yang serupa, tersenyum pun tidak. Tanpa banyak pertimbangan saya pun pergi menjauh dari konter itu.
Sejak kejadian kurang menyenangkan tersebut, jujur saya menjadi malas membeli produk dari brand tersebut. Saya yakin tidak semua Sales Girl brand tersebut bersikap demikian tapi seperti kata peribahasa, "nila setitik rusak susu sebelanga". Saya tidak mengerti mengapa, tapi harga atau kualitas produk tidak menjadi pembenaran untuk seorang Sales Girl berlaku demikian. Toh bukan saya yang dirugikan. Tinggi rendahnya hasil penjualannya tidak akan mempengaruhi saya. Lagipula masih banyak produk dengan kualitas yang sama bahkan lebih baik dari brand tersebut.
Saya menulis pengalaman pahit saya ini sekedar untuk berbagi dengan pembaca. Saya berharap tidak satupun dari pembaca pernah mengalami hal yang sama. Saya juga tidak bermaksud menghasut pembaca untuk tidak membeli produk dari brand tersebut. Saya hanya ingin mengingatkan lagi hak seorang pembeli untuk mendapat informasi secukupnya dan adalah hak penjual untuk menanggapi pembeli seramah dan sebaik mungkin. Happy shopping ladies :)